JURNALIST RIAU, INDONESIA – Sebuah kekuatan komunitas baru muncul dari Riau untuk menjawab tantangan krisis iklim global. Laskar Adat Penakluk Api Riau (LAPAR) secara resmi mengusung model perlindungan ekosistem berbasis komunitas yang mengintegrasikan kekuatan 5.000 personel masyarakat adat dengan teknologi pemantauan digital dibawah kepemimpinan Datuk Mustakim JM. M.PD. pada tahun 2026.
“visi kami sangat sederhana yaitu agar semua anggota kami tidak lapar (kenyang). Maka kami akan bekerja maksimal bersama alam dan teknologi mutakhir yang support lingkungan menjadi lebih selamat dari Api. Misi kami adalah menjembatani jarak antara data satelit global dengan aksi verifikasi lapangan yang presisi. Berdiri Bersama sejumlah laskar yang siap, kami adalah mata dan telinga bagi keselamatan hutan Riau” ujar Datuk Mustakim JM. M.PD., Ketua Umum LAPAR. ”
Kini, LAPAR tengah bertransformasi menjadi Digital Rangers. Dengan dukungan mitra TEKNOLOGI GLOBAL, menargetkan restorasi 1 juta bibit mangrove per tahun dan pengawasan real-time terhadap lahan gambut kritis untuk mendukung target Net-Zero Emission dunia.
“Kita jaga alam ini bersama agar sampai manfaatnya untuk anak cucu cicit kita, jadi bagi yang mau gabung yuk sama sama gerak” tegas Datuk Kim.
Tentang LAPAR: Laskar Adat Penakluk Api Riau (LAPAR) adalah organisasi non-profit yang didirikan untuk melindungi kedaulatan ekosistem Riau. Fokus utama kami meliputi mitigasi kebakaran hutan, restorasi mangrove, pemanfaatan lahan tidur dan pemberdayaan literasi digital bagi masyarakat adat di wilayah pesisir***














