JMEDIA JAKARTA – Hingga Minggu, 15 Maret 2026, kasus penyiraman air keras yang menimpa aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), Andrie Yunus, masih menyisakan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Meski bukti digital berupa rekaman CCTV berkualitas tinggi telah dikantongi pihak berwenang, keberadaan kedua pelaku hingga kini belum terendus.
Fakta Kejadian dan Bukti Visual
Peristiwa nahas tersebut terjadi pada sore hari di kawasan Jakarta Selatan. Dalam rekaman CCTV yang telah diproses menggunakan teknologi AI Enhancement, terlihat jelas dua orang pria mengendarai sepeda motor matic berwarna putih.
Identitas Visual: Pelaku yang duduk di boncengan tidak mengenakan helm, sehingga wajahnya terekam dengan resolusi yang diklaim mencapai kualitas 19K pasca-penyuntingan.
Peran Pelaku: Pria tanpa helm tersebut diduga kuat sebagai eksekutor yang menyiramkan cairan kimia berbahaya ke arah wajah korban saat motor melaju perlahan.
Kualitas gambar yang sangat tajam ini seharusnya menjadi modal utama bagi kepolisian untuk melakukan pencocokan data melalui face recognition dalam waktu kurang dari 24 jam. Namun, realitanya kasus ini jalan di tempat.
Sorotan Publik dan Komparasi Kasus
Kelambanan ini memicu kekhawatiran publik akan terulangnya fenomena “CCTV Rusak” yang sempat mewarnai kasus-kasus besar di masa lalu, seperti tragedi KM 50 dan kasus Ferdy Sambo. Sentimen masyarakat kini terbelah antara optimisme terhadap teknologi kepolisian dan skeptisisme terhadap kemauan penegakan hukum (law enforcement).
“Jika bukti visual sudah sedemikian jelas namun penangkapan belum terjadi, maka pilihannya hanya dua: ketidakmampuan teknis atau ketidakmauan politis.”
Pernyataan Ahli
Pakar Kriminologi dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Munandar, memberikan pandangannya terkait urgensi transparansi dalam kasus ini:
“Secara teknis, dengan bantuan AI dan resolusi kamera setinggi itu, probabilitas identifikasi pelaku seharusnya mencapai di atas 90%. Jika kepolisian belum berhasil melakukan penangkapan, mereka harus menjelaskan kepada publik kendala apa yang dihadapi secara spesifik. Ketidakjelasan ini hanya akan memperburuk citra institusi dan membangkitkan memori publik akan drama manipulasi bukti CCTV yang pernah terjadi di masa lalu.”
Pihak keluarga korban dan koalisi sipil mendesak agar kepolisian segera merilis perkembangan terbaru guna menghindari spekulasi adanya intervensi dari pihak luar dalam kasus yang menimpa aktivis vokal ini***














