“Ini bukan sekadar musibah, ini adalah bom waktu akibat pembiaran sistemik! Ketua Harian Laskar Migas menuntut jawaban pasti, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan dari aparat hingga korporasi atas tragedi yang nyaris merenggut nyawa warga Pekanbaru.”
PEKANBARU — Suasana malam di
SPBU 14.282.667 Jalan Hangtuah, Kelurahan Rejosari, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru mendadak berubah menjadi neraka jahanam, Senin (20/7/2026) menjelang tengah malam. Satu unit mobil Toyota Kijang Kapsul biru dengan nomor polisi BM 1442 SS milik seorang warga bernama Beni mendadak meledak dan terbakar hebat saat tengah menenggak Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) setempat.
Letupan maut yang bermula dari kolong mobil tersebut tidak hanya menghanguskan bangkai kendaraan dan satu unit dispenser (pompa) pengisian BBM, tetapi juga merobek selubung pengawasan lemah yang selama ini dipelihara oleh pihak SPBU, pemilik kendaraan, hingga aparat penegak hukum.
Insiden mencekam yang baru berhasil dijinakkan setelah Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Pekanbaru menerjunkan armada gabungan ini memantik amarah berbagai pihak.
Laskar Migas: “Jangan Ada yang Coba Main Mata dan Tutup Bangkai!”
Menanggapi tragedi mengerikan ini, Ketua Harian Laskar Migas melayangkan kecaman keras dan ultimatum terbuka kepada seluruh pihak yang terlibat. Tanpa kompromi, ia menuntut agar investigasi ini tidak masuk angin atau berhenti pada kata “kelalaian murni”.
“Kami menuntut jawaban pasti dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum! Jangan cuci tangan. Apakah mobil Kijang Kapsul berpelat BM 1442 SS itu konsumen normal, atau pelangsir bensin berkedok ‘tangki siluman’ yang sengaja dimodifikasi untuk menimbun BBM subsidi? Kenapa pengawas dan operator SPBU bisa meloloskan pengisian di atas tengah malam yang rawan modus operandi ilegal? Polsek Kulim dan Pertamina tidak boleh sekadar berteori ‘dalam penyelidikan’, publik butuh transparansi dan penegakan hukum yang kejam bagi para pembuat celaka!” tegas Ketua Harian Laskar Migas dengan nada menggelegar.
Sorotan Tajam & Pertanyaan Investigasi Tanpa Kompromi:
1. Kepada Pemilik Mobil (Beni) & Jaringan Pelangsir BBM:
Bongkar Kapasitas Tangki! Apakah mobil tua tersebut menggunakan tangki modifikasi (kapasitas siluman) di luar standar pabrikan demi mengeruk keuntungan dari BBM subsidi Pertalite?
Frekuensi Ilegal: Sudah berapa kali mobil ini bolak-balik mengisi BBM di SPBU Hang Tuah atau SPBU lainnya dalam sehari? Apakah ini murni kendaraan harian atau bagian dari sindikat pelangsir migas?
Nadariau.com
Picu Letupan: Apa yang sebenarnya terjadi di bawah mobil saat pengisian? Apakah ada korsleting akibat kelalaian merawat kelistrikan, atau ada pemicu lain seperti aktivitas terlarang di dalam kabin saat nosel Pertalite menyemprot?
2. Kepada Manajemen & Pengawas Operasional SPBU Hang Tuah:
Kangkangi SOP Keselamatan: Ke mana petugas pengawas saat kejadian? Mengapa operator tetap mengisi BBM ketika standar operasional prosedur (SOP)—seperti mematikan mesin kendaraan dan melarang potensi percikan—diabaikan?
Kongkalikong dengan Pelangsir? Apakah manajemen SPBU selama ini menutup mata terhadap mobil-mobil mencurigakan yang kerap mengisi BBM berulang kali demi mengejar setoran omset, tanpa peduli keselamatan nyawa publik?
Sistem Keamanan Lemah: Kenapa api sempat membesar dan melumat habis satu unit dispenser sebelum dipadamkan? Apakah Emergency Shut Off Valve gagal berfungsi secara optimal?
KOMPAS.com
3. Kepada Polsek Kulim & Polresta Pekanbaru:
Uji Laboratorium Forensik Transparan! Apa hasil riil olah TKP Tim Inafis? Apakah polisi berani memeriksa isi lambung mobil secara forensik untuk membuktikan ada atau tidaknya tangki modifikasi penimbun BBM?
Pidanakan Pemilik & Pengelola!
Jangan biarkan kasus ini menguap tanpa tersangka. Apakah Polsek Kulim bernyali menyeret pemilik mobil dan pengelola SPBU ke balik jeruji besi atas unsur kelalaian berat yang membahayakan nyawa umum?
4. Kepada PT Pertamina Patra Niaga (Regional Sumbagut):
Sanksi Tegas atau Tutup Permanen! Kapan Pertamina menjatuhkan sanksi skorsing atau pencabutan izin operasional bagi SPBU Hang Tuah? Jangan hanya diberi sanksi administratif ringan yang membuat pengusaha SPBU mengulangi kesalahan serupa.
Evaluasi Total Pengawasan Penyaluran:
Lemahnya pengawasan Pertamina di lapangan terbukti menjadi celah empuk bagi insiden-insiden membahayakan ini. Apa bentuk pertanggungjawaban korporasi terhadap keselamatan warga di sekitar SPBU di seluruh wilayah Riau?
Tragedi di Jalan Hang Tuah ini adalah alarm darurat yang kesekian kalinya. Publik Pekanbaru tidak butuh janji manis atau lempar tanggung jawab dari instansi terkait. Laskar Migas bersama masyarakat mendesak agar hasil investigasi diumumkan secara telanjang bulat, dan siapapun yang terbukti bersalah—baik pemilik mobil siluman maupun manajemen SPBU—harus diseret ke hadapan hukum tanpa pandang bulu!
Rls. JMedia
Buser Bhayangkara Media








