JURNALIST MEDIA PEKANBARU – Fenomena penggunaan media sosial TikTok di Indonesia, khususnya di Provinsi Riau, telah mencapai titik puncak baru pada awal tahun 2026. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun oleh praktisi pendidikan dan sosial Riau, Datuk Mustakim JM, M.Pd, tercatat bahwa sekitar 66% penduduk Bumi Lancang Kuning kini telah menjadi pengguna aktif platform video pendek tersebut.
Dari total populasi Riau yang diperkirakan menyentuh angka 6,8 juta jiwa, sebanyak 4,2 juta orang dilaporkan rutin mengakses TikTok. Angka ini mencerminkan ketergantungan digital yang sangat tinggi, terutama di wilayah perkotaan seperti Pekanbaru, Dumai, dan wilayah industri lainnya.
Dampak Ekonomi Digital dan Beban Masyarakat
Temuan ini menyoroti sisi lain dari masifnya penggunaan media sosial, yakni beban biaya internet yang harus ditanggung masyarakat. Dengan durasi rata-rata penggunaan mencapai 1,5 jam per hari, setiap individu diperkirakan menghabiskan kuota data sekitar 45 GB per bulan.
“Secara finansial, masyarakat bisa mengeluarkan biaya antara Rp90.000 hingga Rp225.000 per bulan hanya untuk mengakses satu aplikasi ini. Jika tidak dikelola secara produktif, ini menjadi beban ekonomi rumah tangga yang tidak sedikit,” ungkap Datuk Mustakim JM.
Tantangan Literasi di Balik Keuntungan Raksasa
Secara nasional, jumlah pengguna TikTok telah menembus 194 juta jiwa, menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar dan pengguna TikTok terbanyak di dunia. Kondisi ini memberikan keuntungan finansial yang sangat besar bagi ByteDance sebagai induk perusahaan, yang laba bersih globalnya diproyeksikan melampaui Rp640 triliun.
Namun, lonjakan angka ini membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan dan sosial. Fokus utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana memastikan durasi penggunaan yang lama tersebut berkontribusi positif bagi ekonomi kreatif lokal di Riau, bukan sekadar menjadi konsumen konten.
Urgensi Pengalihan ke Sektor Produktif
Sebagai praktisi, Datuk Mustakim JM menekankan pentingnya penguatan literasi digital agar masyarakat Riau mampu memanfaatkan algoritma TikTok untuk mempromosikan potensi daerah, produk UMKM, hingga pelestarian budaya Melayu.
“Tantangannya adalah mengubah budaya konsumtif menjadi produktif. Potensi 4,2 juta pengguna di Riau adalah modal besar jika mereka mampu menjadi kreator yang menghasilkan nilai tambah ekonomi, bukan sekadar menghabiskan kuota tanpa manfaat yang jelas,” pungkasnya.
Referensi : Global Digital Reports 2026 dan riset KOL.ID








