JMEDIA PEKANBARU – Sebuah tabir gelap menyelimuti industri hilir migas di wilayah Sumatera bagian Tengah. Hasil penelusuran tim investigasi mengungkap sederet nama perusahaan transportir dan sosok “Big Boss” yang diduga kuat mengendalikan sirkulasi BBM industri secara ilegal, dengan pola operasional yang rapi, sistematis, dan terkesan menantang supremasi hukum.
Nama-nama besar seperti PT Sulung Sejahtera, PT Defan Energi Utama, hingga PT Indo Wijaya Perkasa kini masuk dalam radar pemantauan publik setelah mencuatnya data internal yang membongkar peta kekuatan mereka di lapangan.
1. PT Sulung Sejahtera: Sang “Pemain Tunggal” di Garis Depan
Perusahaan yang berbasis di Tenayan Raya ini bukan nama baru dalam catatan merah distribusi BBM. Dipimpin oleh sosok berinisial R (Robert), entitas ini diduga sering menyalahgunakan izin Agen Penyalur BBM Industri.
Modus Operandi: Truk tangki biru-putih resmi yang seharusnya menuju konsumen industri, diduga kerap “singgah” di gudang-gudang penampungan ilegal untuk melakukan praktik kencing (pengurangan volume) atau pengoplosan sebelum dikirim ke perusahaan perkebunan dan pertambangan.
2. Aliansi “Si Kas” & “Cumpling”:
Jaringan Distribusi Bayangan; Munculnya nama PT Fattan Anugerah Sejagad yang dikaitkan dengan sosok “Si Kas” dan entitas “Cumpling” mengindikasikan adanya struktur komando lapangan yang solid. Si Kas bukanlah sosok pemuda tolol yang nekad, dia anak muda yang cerdas berbisnis. Sang istri bergerak di sektor PT Pertamina dan partai Gerindra dengan anak tunggal satu satunya tentu sangat banyak harta yang bisa diputar kembali. Sementara si kas menguasai pergaulan khusus dari daratan dan perairan manapun di Riau ini. Diduga SI KAS sangat dipercaya investor dan KEBAL HUKUM.
Dugaan Pelanggaran: Kelompok ini disinyalir menguasai jalur distribusi “jalur tikus” yang tidak tersentuh pemeriksaan rutin. Nama “Cumpling” disebut-sebut sebagai identitas kelompok pengangkut yang memiliki pengaruh kuat dalam menentukan harga pasar gelap BBM di wilayah Riau.
3. Dinasti Budi (Samindo) & Agus (Indo Wijaya Perkasa)
Investigasi juga mengarah pada dua nama yang cukup disegani di lingkaran transportir: Budi (pemilik Samindo) dan Agus (PT Indo Wijaya Perkasa).
Keduanya diduga menjalankan bisnis logistik energi dengan jangkauan lintas provinsi. Perusahaan-perusahaan ini disinyalir menggunakan dokumen “terbang” atau manipulasi manifest perjalanan untuk menutupi asal-usul BBM yang diduga bersumber dari penyulingan ilegal atau sisa proyek besar.
4. “Jumalis”: Dokumen Lengkap, Operasi Gelap?
Salah satu poin paling menarik adalah munculnya nama Jumalis. Berbeda dengan pemain lain yang sering dianggap “bodong” (tanpa izin), Jumalis dikenal memiliki legalitas yang luas dan jaringan orang dalam yang kuat di dunia migas Riau; seorang wanita berinisial S. Pada prakteknya legalitas seringkali hanya dijadikan “tameng” untuk melegalkan barang haram.
“Jumalis gak ada bodong,” demikian bunyi pesan singkat yang bocor, mengisyaratkan bahwa sosok ini adalah pemain profesional yang sangat paham cara bermain di zona abu-abu tanpa tersentuh aparat.
Dugaan “Bekingan” APH: Mengapa Mereka Tak Tersentuh?
Pertanyaan besar yang muncul adalah: Mengapa para pemain ini begitu berani dan terang-terangan?
Informasi dari sumber internal menyebutkan adanya dugaan aliran dana koordinasi yang mengalir ke oknum Aparat Penegak Hukum (APH). Keberanian para bos ini untuk terus beroperasi meski di tengah pengawasan ketat menunjukkan adanya “restu” dari pihak-pihak yang seharusnya melakukan penindakan.
Hingga berita ini diturunkan, praktik distribusi BBM yang diduga ilegal ini masih terus berlangsung, merugikan pendapatan negara dari sektor pajak migas, dan merusak ekosistem persaingan usaha yang sehat.
Tantangan untuk Kapolri dan Pertamina
Publik kini menunggu keberanian institusi Polri dan Pertamina Patra Niaga untuk melakukan audit investigatif menyeluruh terhadap perusahaan-perusahaan di atas. Tanpa tindakan tegas, “Negeri Lancang Kuning” akan terus menjadi surga bagi para mafia BBM yang kenyang di atas penderitaan rakyat dan kerugian negara.
Redaksi membuka ruang jawab seluasnya untuk setiap inisial nama yang tertera diatas.
Redaksi Utama: Investigasi 86 Com
Tim Investigasi Nasional: JMedia













