Misteri Ratusan Tahun Pecah! Datuk Mustakim JM Ungkap Tanggal Persis Peletakan Batu Pertama Candi Muara Takus

JURNALIST MEDIA PEKANBARU — Teka-teki mengenai momentum awal pendirian Candi Muara Takus, situs purbakala megah bercorak Buddha di pedalaman Kabupaten Kampar, Riau, kini memasuki babak baru yang memantik perhatian dunia akademik dan arkeologi nasional. Melalui pendekatan analisis historis dan rekonstruksi logistik navigasi amfibi kuno yang mendalam, sebuah rumusan waktu spesifik akhirnya dipaparkan ke publik.

Dalam pemaparan ilmiah terbarunya, Datuk Mustakim JM secara berani dan meyakinkan menyatakan bahwa titik awal atau peletakan batu pertama pembangunan kompleks suci Candi Muara Takus terjadi tepat pada tanggal 7 Agustus 682 Masehi. Pernyataan ini bukan sekadar klaim spekulatif, melainkan sebuah hasil sintesis teologis dan kalkulasi militer kuno yang mengaitkan situs tersebut dengan prasasti paling monumental dalam sejarah Kemaharajaan Sriwijaya, yaitu Prasasti Kedukan Bukit.

Menurut analisis yang dijabarkan oleh Datuk Mustakim JM, hulu ideologis dari berdirinya Candi Muara Takus berakar langsung pada peristiwa bersejarah yang tercatat pada tanggal 16 Juni 682 Masehi. Pada tanggal tersebut, penguasa tertinggi Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, mengerahkan armada besar berkekuatan lebih dari 20.000 personel untuk melaksanakan ekspansi spiritual dan politik yang dikenal sebagai misi Siddhayatra, sebuah perjalanan suci menggalang kekuatan sekaligus membawa berkah bagi wilayah taklukan.

Perjalanan amfibi kuno tersebut diproyeksikan bergerak menyisir pesisir timur Sumatra dari Palembang sebelum akhirnya memudik, atau mendayung melawan arus kuat menuju hulu Sungai Kampar Kanan. Berdasarkan perhitungan logistik navigasi air abad ke-7, pergerakan armada besar yang membawa ribuan pekerja dan biksu itu membutuhkan waktu tempuh berkisar antara 45 hingga 50 hari perjalanan untuk sampai ke titik kelokan sungai di Muara Takus. Garis waktu logistik inilah yang secara presisi menunjuk pada tanggal 7 Agustus 682 Masehi sebagai momen krusial saat armada tiba, melakukan ritual penyucian tanah, dan memulai fondasi awal bangunan suci tersebut.

Lebih lanjut, Datuk Mustakim JM menegaskan bahwa Candi Muara Takus tidak diririkan sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri secara terisolasi. Sebaliknya, kompleks bata merah ini berfungsi sebagai titik jangkar atau mandala satelit yang dibangun secara bertahap pasca-ekspansi Siddhayatra. Tujuan utamanya bersifat ganda: di satu sisi bertindak sebagai benteng pengaman jalur ekonomi perdagangan emas yang sangat basah di pedalaman Sumatra, dan di sisi lain berfungsi sebagai mercusuar spiritual untuk membumikan ajaran Buddha Vajrayana.

Penentuan koordinat dan desain kosmologi suci Muara Takus pada awal Agustus 682 Masehi tersebut diyakini mendapat rekomendasi langsung dari otoritas keagamaan tertinggi di lingkaran dalam Dapunta Hyang, yakni Biksu Agung Sakyakirti. Kehadiran rumusan tanggal 7 Agustus 682 Masehi yang diajukan oleh Datuk Mustakim JM ini diharapkan mampu menjadi jangkar kronologis baru bagi para peneliti untuk terus menyingkap lapisan-lapisan misteri sejarah Nusantara yang selama ini masih terkubur di bumi Riau***

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indeks Berita